oleh

Meminimalisir Komodifikasi   Dalam Pendidikan

Oleh:Nelson Sihaloho

*) Penulis:Guru SMPN 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Abstrak:

Saat ini,  dunia pendidikan mengalami ancaman yang sangat besar, yakni akibat dari liberalisasi perdagangan global terhadap komodifikasi pendidikan.

Bahkan pendidikan bukan lagi menjadi alat untuk melakukan transformasi sosial, namun didalamnya terdapat juga berbagai kebijakan pendidikan yang sering hanya berujung pangkal pada uang. Termasuk juga didalamnya kepentingan penguasa, pemenangan ideologi bahkan kepentingan kelompok diatas kelompok yang lain. Salah satu bentuk komodifikasi adalah perbudakan. Komodifikasi sering kali dikritik atas dasar bahwa beberapa hal tidak pantas dijadikan komoditas. Beberapa contoh diantaranya yakni air, data, informasi, dan pengetahuan dalam era digital termasuk pendidikan.Program pendidikan gratis misalnya banyak kalangan menilai kebijakan itu lebih bersifat komoditas politik apabila dibandingkan dengan kebijakan nasional.Pendidikan gratis hingga kini  belum menjadi kebijakan nasional yang konsisten. Kegiatan-kegiatan seperti Webiner misalnya kedati diumumkan dengan resmi gratis setiap orang yang melakukan kegiatan zoom meeting pasti kuota (pulsa-HP) akan berkurang dan tersedot saat kegiatan berlangsung.

Bahkan sudah tidak masuk akal kegiatan Webinar, Zoom Meeting 2 jam dihargai 32 jam pelajaran (JP). Entah memakai perhitugan matematika dari mana bisa 2 JP Webinar setara 32 JP. Itulah salah satu contoh bahwa telah terjadi komodifikasi dalam dunia pendidikan kita yang perlu diminimalisir  agar semua jasa maupun manfaat yang diperoleh tidak selalu memikirkan keuntungan semata.

Kata kunci: komodifikasi , pendidikan

Komodifikasi

Saat ini banyak berkembang media sosial (medsos)  termasuk medsos di internet baik itu facebook, twitter, istagram, Youtube dan lain sebagainya.

Media adalah alat, sarana komunikasi, perantara atau penghubung. Sosial adalah hal yang berkenaan dengan masyarakat atau perhatian pada kepentingan umum. Intinya bahwa media sosial merupakan alat atau sarana yang digunakan oleh masyarakat untuk dapat saling terhubung dan berkomunikasi. Media sosial berbasis jaringan internet memungkinkan para penggunanya membuat akun, melihat daftar akun pengguna lain, serta mengundang maupun menerima pengguna akun lain untuk bergabung dalam situs tersebut. Menurut Ellison, (2007) menyatakan bahwa media sosial merupakan layanan berbasis jaringan yang memungkinkan individu membuat profil public dalam sebuah system yang dibatasi, menampilkan daftar pengguna lainnya dan dengan siapa mereka berkomunikasi.

Vincent Mosco (2009), menyatakan bahwa komodifikasi merupakan proses mengubah barang dan jasa, termasuk komunikasi, yang nilai kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang akan mereka berikan di pasar. Dalam ekonomi politik Marxis, komodifikasi adalah ketika sesuatu tidak dilihat dari nilai ekonominya, seperti hal nya identitas, ide atau jenis kelamin. Adapun Ibrahim & Akhmad, (2014) menyatakan bahwa berubahnya nilai barang dan jasa yang pada awalnya dilihat dari kegunaannya menjadi komoditas yang memiliki nilai lebih karena dapat memperoleh keuntungan setelah mengalami proses pengemasan.

Komodifikasi digunakan dalam memahami praktik-praktik dan institusiinstitusi komunikasi yang spesifik. Terdapat tiga bentuk komodifikasi yang penting bagi komunikasi (Mosco dalam Halim, 2012) yakni komodifikasi isi, komodifikasi khlayak dan komodifikasi tenaga kerja. Komodifikasi isi erat kaitannya dengan konten yang ada pada media komunikasi. Konten-konten pendidikan saat ini banyak bertebaran di jaringan internet.  Prosesnya ketika pelaku menyampaikan pesan konten  melalui tekonologi dan kemudian pesan tersebut disajikan sebagai pesan yang menjual.

Ada juga konten-konten lainnya seperti pembuatan jasa-jasa lainnya dibidang pendidikan seperti Rencana Program Pengajaran (RPP) hingga pembuatan jasa skripsi. Sedangkan komodifikasi khalayak merupakan bagian penting dalam industri media untuk memperoleh iklan dan pemasukan. Media menciptakan program-program untuk mendapatkan khalayak yang banyak, kemudian diikuti dengan ratting yang meningkat sehingga menarik para pengiklan. Media menjual iklan terhadap khalayak pengiklan melalui program-program yang diciptakan.

Komodifikasi tenaga kerja, yakni ada dua hal penting yang menjadi perhatian. Pertama, komodifikasi tenaga kerja dilakukan dengan memanfaatkan sistem komunikasi dan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan penguasaan tenaga kerja yang kemudian mengkomodifikasi seluruh proses penggunaan tenaga kerja. Kedua, dalam ekonimi politik dijelaskan bahwa komodifikasi tenaga kerja terjadi ketika pekerja melakukan proses mengkomodifikasi yang kemudian disaat yang bersamaan mereka pun dikomodifikasi. Saat ini praktik-praktik komodifikasi pendidikan banyak di jaringan internet temasuk mengubah konten/isi media menjadi komoditas untuk mendapatkan profit. Seperti acara ber-TikTok ria yang dilombakan ternyata harus di “Like” untuk menentukan terhadap siapa dukungan yang paling banyak itulah kelak yang menjadi pemenang “TikTok”. Komodifikasi dalam konteks sebagaimana di “Tik Tok” kan itu merupakan bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil.

Digitalisasi Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi  (Kemdikbudristek) saat ini giat mengembangkan program Digitalisasi Sekolah.

Alokasi dana pengembangan program disiapkan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) berupa BOS Afirmasi dan BOS Kinerja. Program Digitalisasi Sekolah merupakan terobosan baru yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mempermudah proses belajar mengajar.Semoga program digitalisasi sekolah tidak akan menghilangkan proses pembelajaran dengan tatap muka. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa di kelas tetap penting dan tidak tergantikan, dan akan diperkaya dengan konten-konten digital. Kita tentu berhatap dengan digitalisasi sekolah akan mendorong kolaborasi antara guru dan siswa.

Dimasa pandemi Covid-19 banyak kendala yang dilamai oleh guru maupun siswa terutama dalam  melaksanakan aktifitas belajar mengajar dengan mengandalkan teknologi digital.Keberhasilan program digitalisasi pendidikan tergantung kesiapan dari setiap aspek, baik lembaga maupun sumberdaya manusia (SDM) nya.

Minimal ada tiga aspek yang berpotensi dikatakan cukup baik dalam merespon pendidikan berbasis digital yakni, regulator, pengajar atau guru, dan siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa digitalisasi pendidikan adalah sebuah konsekuensi logis dari perubahan zaman. Tidak ada satupun pihak yang bisa memprediksi bahwa teknologi akan diadopsi begitu cepat oleh industri dan masyarakat.

Pada akhirnya digitalisasi sekolah menjadi terobosan baru di dunia pendidikan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi khususnya dalam aspek pembelajara. Sistem ini akan mempermudah proses belajar mengajar, sehigga para siswa dapat mengakses semua bahan ajar ataupun bahan ujian melalui satu jaringan.

Digitalisasi sekolah merupakan implementasi dari new learning untuk menghadapi revolusi industri 4.0, dan diharapkan mendukung peningkatan mutu pendidikan sekaligus pemerataan pendidikan di tanah air. Pembelajaran dengan metode baru atau new learning memiliki beberapa karakteristik diantaranya student centered, multimedia, collaborative work, information exchange, dan critical thinking and informed decision making. Dengan digitalisasi sekolah diyakini akan membuat proses belajar mengajar lebih menyenangkan dan lebih bervariasi.

 Guru maupun peserta didik yang memiliki akses internet dan terampil dalam menggunakannya, memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak terampil. Kebermanfaatan dari digitalisasi pendidikan hanya akan dicapai tatkala para peserta didik termasuk pengajarnya mampu mengeksploitasi teknologi digitalnya untuk mengembangkan pengetahuan. Perlu digarisbawahi bahwa digitalisasi sekolah harus beriringan dengan memperbaiki sistem dan budaya pendidikan bangsa sehingga tercipta peserta didik yang kritis dan mampu berpikir dengan mandiri.

 

Tingkatkan Kemandirian Siswa

 

Pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas merupakan proses transformasi ilmu pengetahuan, sikap dan tingkah laku, serta keterampilan kepada siswa.  Dimasa Covid-19 pembelajaran yang duilakukan dengan belajar dari rumah (BDR) juga memiliki makna yang sama yakni meningkatkan kemandirian peserta didik. Proses transformasi dalam pembelajaran bertujuan dengan digitalisasi mengindikasikan bahwa semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat dioptimalkan. Potensi yang perlu ditumbuhkembangkan dalam pembelajaran adalah sikap mandiri.

Siswa harus mampu menunjukkan kemandirian dalam aktifitas belajar yang berlangsung di ruang kelas maupun di luar kelas.  Sebab kemandirian dalam belajar menjadi bekal penting bagi siswa untuk menjalani hidup dan kehidupan setelah mereka terjun ke tengah masyarakat kelak di kemudian hari. Mereka akan menjadi pribadi yang mandiri dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Guru memiliki peran yang sangat strategis  yakni sebagai pengajar, pendidik dan pelatih. Ketiga peran tersebut tidak bisa dipisahkan dari tugas pokok guru. Sebagai pengajar, guru bertugas mentransformasi ilmu pengetahuan dalam pembelajaran melalui strategi dan metode tertentu. Proses transformasi dalam pembelajaran menempatkan guru menjadi mediator, perantara antara siswa dan sumber/bahan belajar yang ada. Sebagai pendidik, guru bertugas mentransformasikan nilai-nilai sikap dan tingkah laku serta budi pekerti luhur. Semua mata pelajaran yang ada di sekolah telah memuat nilai-nilai sikap positif, tingkah laku yang baik dan nilai budi pekerti luhur.

Sebagai pelatih dalam pembelajaran menempatkan guru untuk memberdayakan potensi keterampilan dasar dan sikap mandiri pada siswa. Potensi ini tercermin dari keterampilan siswa ketika melakukan aktifitas belajar di ruang kelas.

Maka sering dinyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pembelajaran abad 21 menuntut seorang pendidik dan siswa untuk semakin mandiri dalam belajar dan berkembang menyesuaikan zamannya. Pendekatan pembelajaran sebaiknya berpusat pada siswa.

Siswa tidak sekadar datang, duduk, mendengar penjelasan guru, dan menghafal materi yang diberikan guru, melainkan berupaya untuk mandiri dengan mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya sendiri. Setiap proses pembelajaran diperlukan adanya penilaian sebagai alat evaluasi proses pembelajaran. Melalui penilaian akan dapat dilihat ketercapaian hasil belajar siswa, apakah sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran atau belum. Salah satu jenis penilaian adalah assessment for learning.

Menurut Budiyono (2015:157) Assessment for learning adalah penilaian yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran, bukan penilaian untuk melihat seberapa banyak pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa. Assessment for Learning (AfL) merupakan salah satu dari jenis penilaian formatif.

Assessment for learning adalah proses untuk mencari dan menginterpretasikan bukti-bukti yang ada untuk digunakan bagi siswa dan guru untuk menentukan pada posisi mana siswa-siswa telah belajar, apa yang harus dikerjakan kemudian, dan bagaimana cara terbaik untuk mencapai tujuan yang diinginkan. AfL dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa kemampuan siswa dapat meningkat secara optimal, jika mereka mengerti tujuan pembelajaran, mengetahui posisi mereka dalam kaitannya dengan tujuan pembelajaran, dan mengerti cara mencapai tujuan pembelajaran tersebut (Budiyono, 2015:158).

Ada 10 prinsip dalam AfL, yakni (a) AfL merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran yang efektif; (b) AfL harus menfokuskan kepada bagaimana siswa; (c) AfL harus merupakan pusat dari praktik pembelajaran di kelas; d) AfL merupa(kan kunci keterampilan profesional guru; (e) AfL harus sensitif dan konstruktif, sebab setiap asesman selalu mempunyai dampak emosional kepada siswa; (f) AfL harus memperhatikan pentingnya motivasi siswa; (g) AfL harus mengutamakan komitmen atas tujuan pembelajaran dan pemahaman mengenai kriteria yang harus dinilai; (h) Pada AfL, siswa harus mendapatkan petunjuk konstruktif bagaimana siswa harus memperbaiki diri; (i) AfL harus dapat mengembangkan kapasitas siswa untuk dapat menilai dirinya sendiri; dan (j) AfL harus memperhatikan rentang kemampuan siswa. Budiyono,et,al, ada empat karakteristik kunci yang harus dipahami oleh seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan AfL, yaitu: (a) digunakan teknik bertanya yang efektif; (b) digunakan strategi pemberian balikan; (c) adanya pengertian bersama mengenai tujuan pembelajaran; dan (d) dilakukannya penilaian antar teman dan penilaian diri. Budiyono, et, al juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan AfL yang efektif, hal-hal berikut harus dilakukan guru. Yaitu, (a) menekankan adanya interaksi antara pembelajaran dan penilaian yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran; (b) menyatakan secara jelas tujuan pembelajaran; (c) menyatakan pandangan belajar bahwa penilaian dapat membantu siswa belajar lebih baik, buka sekedar memperoleh nilai yang baik; (d) memberikan arahan kepada siswa dengan memberikan balikan kepada mereka; (e) membantu siswa untuk bertanggung jawab mengenai kemajuan belajarnya sendiri; (f) berlaku untuk seluruh siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi digital memberikan pengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital dapat meningkatkan mutu serta kualitas pembelajaran Peningkatan penggunaan internet harus diikuti dengan kepemilikan literasi digital agar internet memberikan pengaruh positif terhadap kemandirian peserta didik. Kehadiran internet diharapkan meningkatkan kecakapan guru dan peserta didik dalam menghadapi era digital, dan menjadi salah satu sumber untuk meningkatkan literasi digital.

yang muncul di era digital termasuk dalam pembelajaran abad-21 harus mampu meminimalisir komodifikasi dalam dunia pendidikan kita. Kita harus mampu meningkatkan kewaspadaan dan mendapatkan manfaat positif dengan dilaksanakannya digitalisasi sekolah. Literasi digital bukan hanya tetang skill menemukan informasi, tetapi juga memanfaatkannya di dalam kehidupan.

Keterampilan inti dalam literasi digital bukan kompetensi teknis penggunaan komputer, namun justru kemampuan berpikir kritis dan kemampuan mengevaluasi penggunaan teknologi dengan tepat dan layak. Teknologi digital harus mampu meningkatkan produktifitas, kesejahteraan, dan pengembangan diribaik guru maupun peserta didik. Penting diingat bahwa era digitalisasi interaksi antara guru dan peserta didik dapat dilakukan dengan jarak jauh. Internet membuat interaksi seseorang semakin luas tidak terbatas oleh ruang dan waktu.  Kompetensi yang sangat dibutuhkan era saat ini maupun di masa mendatang  adalah kompetensi yang berkaitan dengan fleksibilitas dalam berfikir, kelincahan, pemecahan masalah, dan masih banyak lagi kompetensi yang berkaitan dengan era society 5.0.

Kompetensi merupakan hal yang mendasari karakteristik berperilaku dan berpikir sebagai indikator yang digeneralisasi pada cakupan yang luas dalam situasi dan periode yang waktu yang lama. Kompetensi dan SDM yang kompetitif serta mumpuni memang itulah yang dibutuhkan di era industri. Meski begitu kita harus mampu meminimalisir praktik komodifikasi dalam dunia pendidikan. Semoga bermanfaat. (*****).

Rujukan:

1.     Budianingsih, Asri C.2005. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rinekacipta

2.     Budiyono. 2015. Pengantar Penilaian Hasil Belajar. Surakarta: UNS Press

3.     Westwood, P. 2008. What Teachers Need To Know About Teaching Method. Victoria: ACER Perss.

4.     George Ritzer dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Prenada Media: Jakarta

5.   Giroux, H., 2011, On Critical Pedagogy, The Continuum International Publishing Group, London.

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed