oleh

Asesmen Nasional dan Refleksi Perbaikan Mutu Pendidikan

-PERISTIWA-194 views

oleh: Nelson Sihaloho

*)Guru SMPN 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com,nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Abstrak:

 

Pelaksanaan dan penerapan Asesmen Nasional (AN) tahun 2021 untuk seluruh kelihatannya sudah dimulai pada bulan September ini. AN 2021 merupakan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Sebagaimana yang telah disepakati bahwa AN terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter serta Survei Lingkungan Belajar. AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yakni literasi dan numerasi. Sedangkan survei karakter dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. Survey karakter ini yakni “Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Adapun survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Banyak kalangan berharap semoga setelah pelaksanaan AN dilakukan refleksi agar perbaikan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan efesien serta tepat guna. Intinya dengan pelaksaaan asesmen yang lebih baik  diharapkan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perbaikan kualitas, layanan pendidikan.

Kata kunci: asesmen, refleksi, mutu pendidikan

 

AN Pengembangan Kurikulum

 

Sebagaimana diketahui bahwa asesmen nasional memiliki fungsi yakni akan mendeteksi lingkungan belajar siswa. Melalui AN disuatu sekolah akan terlihat serta terdeteksi apakah banyak terjadi perundungan atau sebaliknya. Hasil AN akan digunakan sebagai masukan untuk sekolah. Karena itu salah satu prioritas utama yang perlu dilakukan adalah pengembangan kurikulum yang mampu menjawab tantangan masa depan. Pendekatan dan pengembangan kurikulum ke depan yang harus dilakukan adalah pendekatan dan pengembangan kurikulum. Diantaranya (a) berorientasi pada pencapaian hasil (output oriented) yang perlu dirumuskan dalam bentuk kompetensi. Kurikulum yang berbasis kompetensi harus bertolak dari kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, (b) penerapan mastery learning dalam pembelajaran dan penilaian, dan (c) harus bersifat utuh dan menyeluruh (holistik).

Karena itu sekolah harus siap-siap untuk melakukan perubahan layanan pendidikan  apabila memang mutu pelayanannya perlu ditingkatkan.  Intinya  potret layanan dan kinerja sekolah dari hasil AN akan menjadi refleksi untuk mendorong perbaikan mutu pendidikan.  Bahkan AN murni mengevaluasi mutu sistem pendidikan, bukan evaluasi atas prestasi peserta didik sebagai individu. Hasil AN memotret input, proses serta output satuan pendidikan yang digunakan  untuk mengevaluasi kinerja satuan pendidikan. Peserta didik yang melaksanakan AN adalah mereka yang berada di kelas V, VIII dan XI. Guru dan kepala sekolah tidak mengerjakan AKM tetapi mengerjakan instrumen Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Diperkirakan  soal AN terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (memilih lebih dari satu jawaban benar), menjodohkan pertanyaan dengan jawaban, isian singkat, dan uraian. Siswa kelas V akan mengerjakan 30 soal untuk masing-masing literasi membaca dan numerasi. Siswa kelas VIII dan XI akan mengerjakan 36 soal. Metode penilaiannya menggunakan Computerized Multi Stage  Adaptive Testing (MSAT). AKM dilaksanakan secara adaptif, sehingga setiap siswa akan menempuh soal yang sesuai dengan kemampuannya sendiri.  Dapat disimpulkan bahwa AN lebih komprehensif, sebab tidak hanya mengukur hasil belajar kognitif peserta didik baik literasi dan numerasi. AN juga berfungsi untuk mengukur sisi sosial emosional atau karakter siswa, seperti kecenderungan untuk kreatif, bernalar kritis, berakhlak terhadap sesame, pedulu terhadap alam sekitar, memiliki empati, serta gotong royong.

 

Interaksi di Ruang Kelas

 

Banyak guru yang selalu kreatif dalam menjalankan tugas-tugas peofesionalnya. Interaksi di ruang kelas menjadi kunci utama dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Banyak kalangan menyatakan bahwa hal yang pertama harus dilakukan guru agar peserta didik memperoleh hasil yang maksimal dalam proses dan hasil belajarnya adalah dengan memperbaiki interaksi yang terjadi di ruang kelas dan di sekolah. Yakni nteraksi antarmurid, interaksi antara murid dengan guru, dan interaksi antara murid dengan bahan ajar. Konsekuensinya guru harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensinya. Kepala sekolah dan pemimpin pendidikan lainnya, seperti pengawas dan dinas pendidikan harus mendukung upaya tersebut dengan memfasilitasi guru untuk melakukan pengembangan potensinya berkelanjutan. Di masa Covid-19 saat ini memang sulit melakukan insteraksi di kelas. Kita berharap dengan semakin berkurangnya wabah pandemic Covid-19 kegiatan belajar dengan interaski di ruang kelas dapat berlangsung dengan baik. Interaksi menjadi poin penting dalam kegiatan belajar mengajar karena tak hanya siswa saja yang mendapatkan manfaat, namun juga para guru sekaligus memperoleh umpan balik (feedback) apakah materi yang disampaikan dapat diterima siswa dengan baik. Mendengar pengalaman para siswa dapat diaplikasikan dalam metode pembelajaran sebelum guru masuk ke dalam penjelasan teori ataupun setelah perkenalan. Menurut Supriyadi (2011:69), menyatakan bahwa di dalam proses pembelajaran di sekolah sekurang-kurangnya melibatkan empat komponen pokok, yaitu: 1) Individu siswa, 2) guru, 3) ruang kelas 4) kelompok siswa. Melalui interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antar sesama siswa (komunikasi dua arah dan multiarah) dalam PBM akan menimbulkan perubahan perilaku siswa baik yang berdimensi ranah cipta, ranah rasa maupun ranah karsa.

Brown (dalam Hadiat, 1980:3) mengelompokkan kegiatan guru dan murid yang terjadi selama proses belajar mengajar di dalam kelas menjadi tujuh kelompok. Pola interaksi menurut pengelompokkan yang disusun Brown ini biasa dinamai BIAS (Brown Interaction Analysis System). Pengelompokkan kegiatan guru dan murid menurut Brown (Bias Categories) yaitu: (1) Ceramah, apabila guru hanya memberi informasi (Teacher Lectures=TL). Ceramah sifatnya menerangkan,menguraikan, mengarahkan dan menceritakan. (2) Pertanyaan guru (Teacher Question=TQ), pertanyaan mengenai isi atau pertanyaan yang sifatnya mengarahkan. (3) Respon guru (Teacher Respon=TR), sebagai respon guru terhadap murid dapat dinyatakan dengan sikap memuji, bergurau, menerima dan menggunakan buah pikiran siswa, mengembangkan jawaban-jawaban siswa. Ketika menilai hasil pekerjaan siswa atau jawaban siswa sering menggunakan katakata seperti: jawaban itu kurang tepat, lebih baik, seandainya; dan sebagainya. (4) Respon murid (Pupil Respon=PR), respon murid dapat berupa jawaban pertanyaan guru dan juga dapat berupa pertanyaan murid yang maksudnya meminta penjelasan lebih lanjut. (5) Voluntir (Pupil Volunteers=PV), tanpa ada perintah murid mengajukan pertanyaan, atau mengemukakan komentar terhadap guru atau sesama murid. (6) Tenang, tidak terjadi apa-apa (Silence=S), dalam keadaan diam. (7) Tidak termasuk kategori 1 sampai dengan 6 (Unclassifiable=X). Tidak dapat diklasifikasikan ke 1 sampai dengan 6 atau sama sekali sulit untuk dinyatakan kepada salah satu kategori tertentu. Banyak kalangan pakar dan ahli pendidikan bahwa masa depan peserta didik “kunci emas” nya adalah interaksi di ruang kelas. Guru berinteraksi dengan siswa bagaimana kesulitan siswa bisa diatasi. Mereka peserta didik bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka karena diberikan iklim interaksi yang baik di kelas oleh guru.

 

Refleksi

 

Kita harus kembali melakukan refleksi apakah bangunan yang bernama sekolah itu merupakan tempat untuk semua yang namanya nilai-nilai luhur diwariskan. Kisah pilu tentang nasib guru  seharusnya tidak terjadi dalam dunia pendidikan kita. Termasuk kisah pilu siswa karena miskin serta berasal dari keluarga tidak mampu untuk menebus ijazahpun harus viral dulu baru “terketuk” hati nurani pejabat. Pelu diketahui bahwa sesungguhnya interaksi kelas yang efektif mensyaratkan kepatuhan siswa. Siswa harus sepakat kepemimpinan kelas diambil alih oleh guru dan untuk mengikuti metode pengajaran yang diaplikasikan oleh guru. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) serta era keterbukaan informasi maka relasi guru dengan siswa memerlukan paradigma baru. Jika ingin melanggengkan tradisi saling menghormati maka guru harus rajin berbagi informasi pada siswanya. Guru harus mengubah stigma pemikiran maupun persepsinya bahwa kanal informasi adalah relasi yang efektif untuk menciptakan interaksi ruang kelas baru menuju tatanan dunia global. Mereka adalah generasi milenial generasi masa depan yang sangat dekat dan akrab dengan teknologi digital. Perkembangan era digital tidak hanya berpengaruh pada instrumen pembelajaran amoderen termasuk dalam memahami psikologi para generasi milenial. Guru yang efektif mempunyai penguasaan yang baik terhadap subjek pelajaran dan mempunyai kemampuan yang baik dalam mengajar subjek pelajaran tersebut kepada siswanya. Mereka mempunyai strategi instruksional yang baik dengan didukung oleh metode penetapan tujuan (goal setting), rencana instruksional, serta manajemen kelas yang baik. Menurut Santrock, (2001). mereka juga tahu bagaimana cara untuk memotivasi, berkomunikasi, dan bekerja secara efektif dengan siswa-siswanya, yang sering kali berasal dari latar kebudayaan yang berbeda-beda. Hasil penelitian Santrock (2001) adapun karakteristik guru yang disukai oleh siswa dan karakteristik guru yang tidak disukai oleh siswa yakni mempunyai selera humor (72,9%), membuat kelas menjadi menarik (73,7%), mempunyai pengetahuan mengenai subjek yang dibicarakan (70,1%),  menjelaskan subjek pelajaran dengan jelas dan baik (66,2%), meluangkan waktu untuk membantu siswa (65,8%), memberikan perlakuan yang adil terhadap siswa (61,8%), memperlakukan siswa layaknya orang dewasa (54,4%), membina hubungan yang baik dengan siswa (54,2%), memperhatikan perasaan siswa-siswanya (51,9%) serta tidak pilih kasih tehadap siswa (46,6%). Karena itu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dimaknai sebagai proses belajar yang memungkinkan peserta belajar melihat bahwa hal-hal yang mereka pelajari dan mereka kerjakan itu mempunyai tujuan dan relevansi dengan kehidupannya sehingga mereka juga mempunyai motivasi untuk terlibat di dalamnya.  Kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif apabila guru dapat menghidupkan kelas-kelas mereka dengan optimal. Menghidupkan kelas dalam hal ini dapat disebut juga sebagai upaya melakukan manajemen kelas yang optimal. Optimalisasi manajemen kelas ini akan menjadi kunci tercapainya tujuan–tujuan pembelajaran sehingga tercapai suatu pola pembelajaran yang efektif. Darling-Hammond (2005:330–332) memaparkan pengertian manajemen kelas sebagai suatu aksi yang dilakukan guru dalam menciptakan dan memelihara lingkungan belajar agar tetap kondusif bagi siswa dan guru untuk mecapai tujuan instruksional. Menurut Cooper (dalam Sudarwam Danim, 2002:168) ada beberapa pandangan tentang pentingnya manajemen kelas sebagai upaya mencapai pembelajaran efektif. Pertama, manajemen kelas dipandang sebagai proses untuk mengendalikan atau mengontrol perilaku siswa di dalam kelas. Pandangan ini masih berpijak pada pentingnya manajemen sebagai upaya otoritatif. Hal ini menjadikan disiplin siswa di dalam kelas sebagai ukuran keberhasilan dalam manajemen kelas. Kedua, manajemen kelas merupakan upaya menciptakan kebebasan bagi siswa. Darling-Hammond (2005: 332-349) memaparkan lima aktivitas yang menjadi cakupan manajemen kelas yang harus menjadi perhatian guru dalam rangka menghidupkan ruang kelas guna mencapai tujuan pembelajaran adala; 1) mewujudkan kurikulum yang bermakna (meaningful curriculum) dan meningkatkan dasar-dasar kependidikan untuk mendorong motivasi siswa, 2) membangun komunitas belajar yang suportif bagi perkembangan mental dan intelektual siswa, 3) organizing and stucturing the classroom, 4) repairing and restoring behavior respectfully, 5) meningkatkan perkembangan moral (moral development.).

Karena itu siswa harus merasa nyaman di lingkungan belajarnya sebab, dengan begitulah mereka dapat berkembang baik emosionalmaupun sosialnya. Mereka dapat berinteraksi dengan maksimal dengan guru dan siswa lainnya dan merasa memiliki lingkungan belajar tersebut. Dalam lingkungan yang kondusif ini, siswa dapat mengembangkan berbagai kompetensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi sosial. Ruang kelas sebagai tempat belajar, juga harus ditata sedemikian rupa agar proses interaksi dan komunikasi siswa dengan guru dan antar siswa dapat berjalan dengan lancar. Setting kelas harus memungkinkan mereka berinteraksi dengan leluasa dan bermakna. Distribusi pengetahuan dan keterampilan harus berjalan lancar dalam tatanan kelas yang kondusif. Termasuk proses penyampaian pendapat dan hasil kerja siswa harus berjalan tanpa hambatan. Mengutip Brophy (1988) mengemukakan lima hal penting yang menjadi cakupan manajemen kelas yang harus diperhatikan guru: Pertama, manajemen kelas harus didasari dengan pemahaman yang utuh mengenai berbagai temuan berkaitan dengan kebutuhan personal dan psikologikal siswa. Kedua, manajemen kelas mencakup pewujudan interaksi positif guru dengan siswa dan peer relationship. Ketiga, manajemen kelas mencakup pemilihan dan pelaksanaan metode-metode instruksional dan media yang memfasilitasi proses belajar yang optimal. Keempat, manajemen kelas mencakup pengorganisasian dan manajemen kelompok yang memungkinkan siswa dapat meningkatkan berbagai kompetensi dalam berbagai aktivitas belajarnya. Kelima, manajemen kelas mencakup pengorganisasian berbagai isi pembelajaran dengan berbagai faktor pendukungnya sehingga tampak perubahan yang signifikan dari perilaku siswa setelah mengikuti proses belajar.  Bandingkan dengan pendapat Jones (1998,22-32) yang memaparkan empat faktor penting yang mempengaruhi guru dalam rangka menghidupkan kelas yang efektif. Yakni (1) karakteristik dan kebutuhan siswa, (2) konteks sekolah, (3) personalitas guru, dan (4) Belief regarding the goals of schooling. Dapat disimpulkan bahwa, guru-guru yang mempunyai prekonsepsi yang baik dan komprehensif terhadap tugas dan kewajibannya sebagai pengajar profesional akan memunjukkan tingkat pengelolaan kelas yang jauh lebih baik. Karena itu sebagai tenaga profesional, guru berkewajiban untuk selalu memperbaiki diri dalam tugas sehingga tugas-tugas yang dilakukan mencapai tujuan yang ditetapkan. Mutu pendidikan diukur dengan penilaian pendidikan, baik oleh guru, satuan pendidikan, maupun pemerintah termasuk dengan melalui Asesmen Nasional. Guru harus bijaksana dalam mengatasi permasalahan pembelajaran serta penting melakukan refleksi setelah melakukan pembelajaran di kelas. Refleksi diri penting dilakukan sebab guru bisa melakukan perbaikan dalam pelaksanaan tugasnya. Berdasarkan pada logika, guru akan jujur ketika melakukan refleksi, karena memang tidak ada yang mengawasi. Dengan refleksi guru diharapkan mutu pendidikan akan semakinmeningkat. Guru yang melakukan refleksi adalah guru yang berpikir ulang tentang pembelajaran yang telah dilakukannya.  Menurut Charlotte Danielson dalam buku Enhancing Professional Practice: a framework for teaching (2007:169), agar produktif refleksi atas pembelajaran harus sistematis dan analitis. Tatkala pelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya, seorang guru tidak cukup jika hanya mengenali bahwa pembelajaran tidak berhasil melainkan juga harus mampu menentukan alasan untuk hasil dimaksud. Seorang guru yang telah melakukan refleksi diri, apabila ditanya apa yang akan dilakukan jika harus mengajarkan ulang materi yang sama kepada siswa yang sama di waktu mendatang, maka guru itu dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan. Dengan demikian, guru akan senantiasa memperbaiki diri dalam pembelajaran, dan akan meningkan hasil belajar siswa. Dengan demikian, mutu pendidikan pun akan meningkat. Semoga bermanfaat. (****).

 

Rujukan:

 

  1. Allyn and Bacon. Silvestri, L. (2001). Pre-service teachers’ self-reported knowledge of classroom management. Education, 121 (3), 575-580.
  2. Danim, Sudarwan. (2002) Inovasi pendidikan : Dalam upaya peningkatan profesionalitas tenaga kependidikan. Bandung : pustaka setia.
  3. Darling – Hammond, Linda (2005). Preparing Teachers for A Changing World: What Teachers Should Learn and Be Able to Do. San Francisco: Jossey-Bass A Wiley Imprint.
  4. 1980. Analisis Interaksi. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G)
  5. https://www.psikologimultitalent.com/2015/10/manajemen-kelas-interaksi-guru-dan.html?m=1
  6. Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston:
  7. Sardiman, A.M. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  8. 2011. Strategi Belajar dan Mengajar. Yogyakarta: Cakrawala Ilmu.
  9. Sutikno Sobry, M. 2009. Belajar dan Pembelajaran: Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil. Bandung: Prospect.

 

 

 

 

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed