oleh

Guru Inovatif, Proaktif dan Dinamis  Dalam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Oleh: Nelson Sihaloho (Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi)

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmaail.com

 

Abstrak

 

Pengembangan keprofesian berkelanjutan sudah menjadi tugas dan kewajiban. Termasuk melaksanakan publikasi ilmiah merupakan bagian dari kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Guru profesional tercermin dari kinerjanya melalui budaya menulis dan meneliti yang dituangkan dalam bentuk karya tulis guru. Selain itu publikasi ilmiah menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat guru dalam menjalankan tugas profesionalismenya. PKB Guru menajdi bagian yang sangat urgensial di dalam menentukan keberhasilan setiap reformasi pendidikan baik langsung maupun tidak langsung. Kendati peran guru tidak bisa digantikan dengan teknologi guru wajib dengan terus menerus melakukan inovasi, proaktif dan dinamis menyikapi perkembangan yang ada. Kemajuan Iptek  diharapkan selain mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (PBM) juga meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM)nya. Hal itu sangat penting mengingat  se akin kompetitifnya persaingan global. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru merasa kesulitan untuk melakukan publikasi ilmiah  terutama kegiatan pengembangan profesinya. Dalam prakteknya banyak guru mengalami kendala dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan. Diantaranya manajemen waktu, biaya, sistem birokrasi, dan faktor internal guru seperti kepribadian, motivasi, dan komitmen guru. Karena itu sebagai solusinya guru harus inovatif, proaktif serta dinamis dalam mengembangkan keprofesian berkelanjutan.

Kata kunci: inovatif, proaktif, dinamis dan PKB

 

Guru Inovatif

 

Mengutip Hamalik, (2009) menyatakan bahwa guru profesional adalah guru yang mampu melaksanakan tugas-tugas berikut: 1) mengembangkan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya; 2) melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil; 3) bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah yaitu melaksanakan perannya dalam proses mengajar dan belajar di kelas. Konsekuensi dari jabatan guru sebagai profesi, diperlukan suatu sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru dengan cara terprogram dan berkelanjutan. Fakta dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam pengembangan karya profesi masih rendah. Bahkan ketika Permenpan No 84 tahun 1993, terjadi “bottle neck” untuk pangkat dan golongan guru IV a, sehingga jika permenpan tersebut dilaksanakan banyak guru yang harus dibebaskan dari jabatan fungsionalnya, dan tidak lagi sebagai guru. Pada akhirnya peraturan itu akhirnya diganti dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenegpan RB) No. 16 Th.2009  tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan tidak jauh berbedaKenaikan pangkat dan golongan mulai pada pangkat III/a (guru pertama), karya pengembangan profesi sudah dipersyaratkan.  Pada juknis, karya profesi bentuk publikasi ilmiah diberikan batasan sbb:

 

Tabel 1. Ragam Publikasi Ilmiah Jabatan Guru setiap Pengkat dan Golongannya

 

Ke Jabatan Jumlah Angka Kredit Ragam Publikasi Ilmiah
Guru Pertama III/b
Guru Muda III/c 4 (empat) Bebas
Guru Muda III/d 6 (enam) Bebas
Guru Madya IV/a 8 (delapan) Minimal 1 Laporan Penelitian
Guru Madya IV/b 12 (dua belas) Minimal 1 laporan penelitian

Minimal 1 artikel jurnal ber ISSN

Guru Madya IV/c 12 (dua belas) Minimal 1 laporan penelitian

Minimal 1 artikel jurnal ber ISSN

Guru Utama IV/d 14 (empat belas) Minimal 1 laporan penelitian

Minimal 1 artikel jurnal ber ISSN

Minimal 1 buku pelajaran/pendidikan ber ISBN

Presentasi

Guru Utama IV/e 20 (dua puluh) Minimal 1 laporan penelitian

Minimal 1 artikel jurnal ber ISSN

Minimal 1 buku pelajaran/ pendidikan ber ISBN

 

Mengacu pada tabeli 1 diatas maka dengan pola jabatan yang berjenjang maka guru dituntut untuk invovatif dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Udin Saefudin Sa’ud (2009:3) menyatakan bahwa “inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri”. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Adapun Arifah, (2016:116) menyatakan inovasi adalah pembaruan atau perbaikan dengan disertai ke arah yang lebih baik dengan cara-cara tertentu. Inovasi pembelajaran merupakan pembaruan atau perbaikan suatu sistem pembelajaran agar pembelajaran menjadi lebih baik.  Perkembangan iptek yang kini pesat, juga mengharuskan seorang guru untuk senantiasa mengikutinya dan memiliki inisiatif yang kreatif. Pembelajaran yang bermutu selalu dihasilkan oleh guru-guru yang inovatif. Inovasi sistem pembelajaran yang berbasis teknologi informasi di era pebelajaran abad 21 sangat diperlukan. Inovasi sistem pembelajaran tidak akan pernah berhenti, sebab kebutuhan manusia untuk terus belajar semakin meningkat.  Di antara 5,6 juta guru di Indonesia, baru sekitar 2% guru yang inovatif, artinya 98% guru tidak inovatif (Iskandar, 2013). Pendidikan merupakan suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan itu sendiri. Inovasi dalam pendidikan muncul disebabkan oleh adanya persoalan dan tantangan yang perlu dipecahkan dengan pemikiran baru yang mendalam dan progresif. Inovasi pendidikan merupakan upaya dasar untuk memperbaiki aspek-aspek pendidikan agar lebih efektif dan fisien. Demikian juga dengan guru harus tetap inovatif dalam melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

 

Guru Proaktif

 

Guru dan tenaga kependidikan saat ini harus mampu merespons perubahan zaman dengan cara proaktif. Sebab, guru berperan sebagai penopang terciptanya sekolah unggul. Guru hatus memiliki inovasi, pengetahuan teknologi, riset terhadap perkembangan zaman. Guru juga dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas kinerjanya, sistemik, terkordinir serta  berkelanjutan.  Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa  mendatang  akan  semakin  kompleks,  sehingga  menuntut guru  untuk  senantiasa melakukan  berbagai  peningkatan  dan  penyesuaian  penguasaan  kompetensinya.  Guru harus  lebih  dinamis  dan  kreatif  dalam  mengembangkan  proses  pembelajaran  siswa. Untuk   menghadapi   tantangan   profesionalitas   tersebut, guru   perlu   berfikir   dengan cara  antisipatif dan proaktif.  Guru profesional adalah guru berkualitas, berkompetensi. Dalam menyikapi kondisi Covid-19 saat ini guru juga wajib untuk selalu proaktif dalam menyikapi perkembangan yang ada. Guru proaktif cenderung bersikap tenang dan positif terhadap setiap stimulus yang dating. Seburuk apa pun stimulus yang dihadapi, guru  harys menunjukkan sikap tenang  serta selalu berpikir positif. Guru harus mampu mengubah situasi yang tidak menguntungkan menjadi peluang utntuk melakukan perubahan ke arah positif. Guru proaktif tidak akan pernah kehilangan akal (selalu kreatif dan inovatif) meskipun yang bersangkutan dihimpit oleh berbagai persoalan maupun kesulitan.  Konsep proaktif, dimaknai keluwesan guru dalam mempertimbangkan pemilihan respons terhadap peristiwa-peristiwa kehidupannya; kemampuan guru untuk mengambil inisiatif; dan disertai dengan tanggung jawab terhadap segala peristiwa. Perilaku Guru yang proaktif merupakan cerminan konkret berupa tindakan dalam melakukan sesuatu berdasarkan keluwesan guru dalam mempertimbangkan pemilihan respons terhadap peristiwa-peristiwa kehidupannya; kemampuan guru untuk mengambil inisiatif; dan disertai dengan tanggung jawab terhadap segala peristiwa. Umumnya karakteristik guru yang berperilaku proaktif adalah individu yang perilakunya cenderung bertindak atas inisiatif sendiri tanpa paksaan dari siapapun dalam memilih respons yang tepat sehingga dirinyalah yang bertanggung jawab terhadap pilihannya. Lebih khusus  karakteristik Guru yang memiliki perilaku proaktif adalah suatu tindakan dalam melakukan sesuatu yang berdasarkan keluwesan dalam memilih respon, kemampuan mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas pilihannya.

 

Dinamisator

 

Saat ini masih ditemukan banyak hal yang membelenggu tugas guru. Bahkan sangat jauh dari harapan untuk membentuk masa depan. Beban administrasi sangat banyak sehingga guru kurang berinovasi dan beradaptasi dengan segala perubahan.  Kendati beban dipundak guru sangat banyak, profesi ini menjadi dambaan banyak orang. Setiap profesi mempunyai tuntutan-tuntutan khusus, dan apabila menolak berarti menolak profesi tersebut.  Banyak kasus terjadi pada guru dimana awalnya profesinya menjadi guru dan selang beberapa tahun kemudian pindah ke dinas atau instansi  lain. Pada akhirnya oknum  seperti itu “ditengah jalan” menolak profesinya meniajdi seorang guru. Searusnya sebagai profesi yang mulia guru harus menjadi teladan baik di dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam seluruh kehidupannya. Guru yang dinamisator adalah guru yang melaksanakan perannya dengan baik. Termasuk dalam menerapkan model pembelajaran bervariasi, media beragam, pengelolaan kelas yang matang sehingga proses pembelajaran berkembangn dengan dinamis. Model dinamisator akan selalu menggerakkan guru untuk senantiasa terus mengembangkjan sikap profesionalismenya  termasuk dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan.  Sosok dan profil guru yang dinamisator adalh orang yang selalu menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat. Kompetensi yang urgen dimiliki seorang guru dalam menjalankan peran sebagi dinamisator adalah kompetensi sosial. Guru mengoptimalkan kemampuan tersebut untuk mendorong potensi yang ada di masyarakat. Tanpa guru, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan maksimal. Guru merupakan faktor utama yang menentukan tingkat kesuksesan suatu bangsa. Karena itu guru harus mampu tampil sebagai dinamisator  Sebagai seorang inovator, seorang guru berfungsi untuk melakukan kegiatan kreatif dan menentukan strategi, metode, cara, atau konsep yang baru dalam pengajaran. Sebagai seorang dinamisator, seorang guru berfungsi untuk memberikan dorongan terhadap siswa dengan cara menciptakan suasana lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

PKB Berjalan Seiring

 

Profesionalisme guru selalu dan wajib dilakukan dengan terus menerus. Ituah sebabnya PKB dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan guru.Pelaksanaannya didasarkan pada unsur-unsur PKB, prinsip pelaksanaan dan lingkup pelaksanaan kegiatan. Unsur kegiatan PKB Menurut Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009. Unsur PKB terdiri dari 3 jenis yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.  PKB harus dilakukan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensinya diatas standar kompetensi profesi guru. Hal demikian berimplikasi terhadap perolehan angka kredit ataupun kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.  Di Era golobalisasi guru memiliki tantangan besar yang harus disikapi dengan mengedapankan profesionalisme guru. Pelaksanaan PKB dapat meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian untuk memenuhi kebutuhan dan tututan masa depan yang berkaitan dengan profesi guru. Peningkatan kompetensi syoginya akan terus menunjang pelayanan pendidikan bermutu dan berimplikasi pada perolehan angka kredit untuk pengembangan karir guru. Unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan berupa pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif diharapkan dapat dilakukan dengan teratur, sistematis, dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan pengembangan profesinya. Angka kredit yang dicapai dalam unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan dapat mendukung pengembangan karif guru yang lebih obyektif, transparan, dan akuntabel. Selanjutnya  akan mendorong pengakuan profesi guru sebagai lapangan pekerjaan bermartabat dan bermakna terhadap masyarakat dan sejalan dengan visi mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengembangan keprofesian berkelanjutan guru melalui publikasi ilmiah masih perlu ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian serius baik secara individu (guru) maupun lembaga. Para pemangku kebijakan sekolah seyogyanya mendukung pertumbuhan pembelajaran partisipatif yang berkelanjutan yang terkait erat dengan realitas kebutuhan guru dalam pengembangan profesionalismenya.  Guru dituntut untuk terus menerus membangun potensi internal, dalam upaya mencapai profesionalitas kinerjanya yang lebih baik. Menin gkatan kesadaran diri atas tugasnya sebagai guru bahwa pengembangan profesionalitas seorang guru sangat penting dilakukan demi ketercapaian tujuan pendidikan. Era Revolusi Industri 4.0 yang menekankan pada digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic, menuntut dunia pendidikan mengonstruksi kreatifitas, pemikiran kritis, penguasaan teknologi serta kemampuan literasi digital. Kita haryus menyadari sepenuhnya bahwa Revolusi Industri 4.0 yang sarat dengan teknologi super cepat akan membawa perubahan yang signifikan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan dalam sistem pendidikan tentunya akan berimplikasi pada peran guru sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  PKB diarahkan untuk memperkecil jarak antara pengetahuan, keterampilan, kompetensi sosial, dan kepribadian yang dimiliki guru termasuk tuntutan  profesionalisme guru di masa depan. Seiring dengan rencana Pemerintah menerapkan aturan baru terkait Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) berdasarkan Peraturan Menteri PANRB Nomor 8 Tahun 2021 tentang Sistem Manajemen Kinerja PNS mulai 1 Juli 2021. Dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 8 Tahun 2021 dijelaskan sistem manajemen kinerja PNS bertujuan untuk menyelaraskan tujuan dan sasaran instansi/unit kerja/atasan langsung ke dalam Sasaran Kinerja Individu. Kelak hal tersebut menjadi dasar pengukuran, pemantauan, pembinaan kinerja dan penilaian kinerja serta tindak lanjut hasil penilaian kinerja. Mengacu pada hal tersebut maka guru dituntut untuk selalu inovatif, proaktif menghadapi dinamisnya perkembangan Iptek termasuk dalam melaksanakan PKB nya. Semoga Bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

  1. Barnawi & Arifin. (2014). Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
  2. Daryanto & Tasrial. (2015). Pengembangan Karir Profesi Guru. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
  3. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
  4. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit
  6. Priatna, Nanang & Tito Sukamto. (2013). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  7. Syaefudin, U. (2011). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  8. Villegas-Reimers, E. (2003). Teacher professional development: an international review of the literature. Paris: IIEP-UNESCO.
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed