Mengurangi Stres dengan Kecerdasan Spritual

287

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Abad ke 21 dan era indstri 4.0 dan masa pandemic Covid-19 berbagai bentuk masalah keluh kesah manusia dapat kita lihat fakta-faktanya dilapangan. Banyak orang mengeluh tentang kehidupan dan permasalahannya.

Karena ketidakmampuannya dalam mengelola kecerdasannya berakibat pada stress. Stres bisa muncul ketika terjadi perubahan dalam kehidupan kita. Stres seringkali diidentikan dengan suatu keadaan yang membebani atau membahayakan kesejahteraan penderita. Bisa meliputi fisik, psikologis, sosial ataupun kombinasinya.

Kadangkala stres bias menghasilkan berbagai respon. Berbagai hasil penelitian telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami oleh seseorang. Salah satu potensi kecerdasan yang harus selalu diasah, dan digunakan setiap waktu adalah kecerdasan spritual. Kecerdasan ini sangat penting dimanfaatkan di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Kecerdasan spiritual juga berpengaruh dalam menghadapi perubahan dan cobaan-cobaan hidup. Dengan mengoptimalkan kecerdasan spiritual seseorang individu akan senantiasa menemukan jawaban dalam menghadapi suatu permasalahan dalam kehidupannya. Kecerdasan spiritual  yang dikenal dengan “suara hati” menjadikan kita sadar bahwa bisa saja kita memiliki masalah. Berbagai kalangan menyatakan bahwa bahwa kecerdasan spiritual memberikan pengaruh pada seseorang dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Orang-orang yang ambisius cenderung dan seringkali terkenan gejala bahkan mengalami stress apabila keinginan dan kehendaknya tidak tercapai atau terkabul. Sebab tindakan dan keputusannya kadangkala merugikan serta mengorbankan orang lain. Bahkan dengan cara-cara yang kurang elegan seperti memfitnah, menjelek-jelekkan  orang lain, tidak tahu diri siapa dirinya yang sesungguhnya. Itulah sebabnya seorang yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi, tidak akan mengerjakan sesuatu yang merugikan, karena hal ini akan berakibat pada dirinya maupun orang lain.

Stres dan Penyebabnya

Stres, sering diartikan berbeda-beda oleh setiap orang termasuk para ahli-ahli psikologi.

Sebagian mendefinisikan stres sebagai tekanan, desakan atau respon emosional. Para psikolog juga mendefinisikastres dalam berbagaibentuk. Lazarus dan Folkman (1984)  menyatakan, stres psikologis adalah sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai olehindividu tersebut sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan seseorang dan membahayakan kesejahteraannya.
Stres berarti ketegangan, tekanan batin, tegangan, dan konflik yang berarti, satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme. Stres, juga sejenis frustasi, di mana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuantelah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi terhalanghalangi; peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was-was kuatir dalam percapaian tujuan.

Kekuatan yang diterapkan pada suatu sistem, tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi. d. Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan. Mengutip Robert S. Fieldman stress adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Sedangkan Hans Selye dalam bukunya Hawari (2001) stress adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang telah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjelaskan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres.

Mishra dan Vashist (2014) mengatakan bahwa  serangkaian masalah biasanya muncul dalam bentuk ketegangan emosional, bunuh diri, pemberontakan, pengrusakan, ketidaksesuaian dan pembangkangan.  Ada berbagai penyebab dari stress dimana menurut menurut Brannon & Feist (2007) dan Myers (1996), stres dapat berasal dari tiga sumber. Pertama, katastrofi, adalah kejadian besar yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi, seperti bencana alam dan perang. Ke dua, perubahan kehidupan. Perubahan kehidupan seseorang dapat memicu terjadinya stres. Contohnya perceraian, kematian orang yang dicintai, dan kehilangan pekerjaan. Ke tiga, kejadian sehari-hari.

Kejadian sehari-hari yang dapat menimbulkan stres misalnya jadwal kerja yang padat, lalu lintas yang macet, dan antrian yang panjang di kasir, loket, atau bank. Kejadian sehari-hari juga bisa membuat orang stres.  Menurut Rasmun (2004), stresor adalah variabel yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya stres. Sumber stres dapat berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh. Stres terjadi apabila stresor tersebut dirasakan dan dipersepsikan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang merupakan awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis. Rasmun,et.el, menyatakan ada beberapa jenis stressor.

Pertama, stresor biologik. Stresor biologik dapat berupa bakteri, virus, hewan, binatang, tumbuhan, dan berbagai macam makhluk hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan. Tumbuhnya jerawat, demam, dan digigit binatang dipersepsikan dapat menjadi stresor dan mengancam konsep diri individu.
Ke dua, stresor fisik. Stresor fisik dapat berupa perubahan iklim, suhu, cuaca, geografi, dan alam. Letak tempat tinggal, demografi, jumlah anggota dalam keluarga, nutrisi, radiasi, kepadatan penduduk, imigrasi, dan kebisingan juga dapat menjadi stresor.
Ke tiga, stresor kimia. Stresor kimia dapat berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh. Contoh stresor yang berasal dari dalam tubuh adalah serum darah dan glukosa sedangkan stresor yang berasal dari luar tubuh misalnya obat, alkohol, nikotin, kafein, polusi udara, gas beracun, insektisida, pencemaran lingkungan, bahan-bahan kosmetika, bahan pengawet, pewarna, dan lain-lain.
Ke empat, stresor sosial dan psikologik. Stresor sosial dan psikologik misalnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kekejaman, rendah diri, emosi yang negatif, dan kehamilan.
Ke lima, stresor spiritual. Stresor spiritual yaitu adanya persepsi negatif terhadap nilai-nilai ketuhanan. Tidak hanya stresor negatif yang dapat menyebabkan stres, tetapi stresor positif seperti kenaikan pangkat, promosi jabatan, tumbuh kembang, menikah, dan mempunyai anak juga dapat menyebabkan stres.
Atkinson (2003) menyatakan  bahwa tanda-tanda psikologis yang muncul akibat stress. Yakni cemas, merupakan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan munculnya rasa khawatir, tekanan dan ketakutan, hal ini terjadi dengan tingkatan berbeda–beda pada setiap individu.
Kemudian, marah, yaitu luapan emosi yang agresif, baik verbal maupun non verbal. Ketika individu marah, perilaku agresi bisa ditujukan langsung pada sumber stres.

Bisa juga dengan menyerang orang tak bersalah dan obyek–obyek yang ada di sekitar. Selanjutnya adalah depresi, merupakan reaksi psikologis dengan menarik diri, menjadi malas dan tidak berdaya menghadapi kejadan–kejadian yang tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Serta penurunan fungsi kognisi, yaitu sulit konsentrasi dan sulit berpikir logis.

Adapun Taylor (2003)  membagi gejala stres menjadi 4: gejala emosi, kognisi, gejala sosial, dan gejala fisik. Gejala emosional (Perasaan) meliputi cemas, murung, rasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu, perasaan marah, merasa ketakutan. Gejala kognisi. Seperti takut gagal, tidak dapat berkonsentrasi, ceroboh, rasa khawatir, penghargaan diri yang kurang. Gejala sosial. Seorang yang mengalami stres menjadi sulit bekerja sama, gugup ketika berbicara dengan teman, tidak tenang, dan bertindak sesuka hati. Gejala fisik. Berkeringat, detak jantung meningkat, merasa gugup, gemetaran, mudah lelah, sering buang air kecil, susah tidur,sakit kepala, tekanan darah tinggi.

Kecerdasan spiritual

Manusia yang cerdas adalah manusia yang mengoptimalkan dan menggunakan segenap sumber daya yang dimilikinya untuk mengatasi persoalan dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Menurut Zohar dan Marshall (2000), kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dalam hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Fachrie (2004) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk dapat melakukan manajemen diri secara sempurna, yaitu dimulai dengan kemampuan mengenali dan mengendalikan diri sepenuhnya serta kemampuan mengendalikan realitas kehidupan atau dengan kata lain kecerdasan dalam menggunakan wewenang untuk memanfaatkan kuasa Tuhan. SI adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EI secara efektif. Bahkan SI merupakan kecerdasan tertinggi.

Mengutip Khavari, ada beberapa  *aspek  yang menjadi dasar kecerdasan spiritual yakni: pertama, sudut pandang spiritual-keagamaan, artinya semakin  harmonis relasi spiritual-keagamaan kita kehadirat Tuhan,  semakin tinggi pula tingkat dan kualitas kecerdasan spiritual kita. Ke dua, sudut pandang relasi sosial-keagamaan, artinya kecerdasan  spiritual harus direfleksikan  pada  sikap-sikap sosial yang  menekankan  segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial. Ke tiga, sudut pandang etika sosial. Semakin beradab etika sosial  manusia semakin berkualitas kecerdasan spiritualnya.Zohar (2000)  mengidentifikasikan sepuluh kriteria mengukur kecerdasan spiritual seseorang. Yakni, kesadaran diri, spontanitas, termotivasi secara internal, melihat kehidupan dari visi dan berdaar nilai-nilai fundamental. Kemudian, holistik, melihat sistem dan universalitas, kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan) dan menghargai keragaman. Selanjutnya adalah mandiri, teguh melawan mayoritas, mempertanyakan secara mendasar, menata kembali dalam gambaran besar serta teguh dalam kesulitan.

Lebih lanjut Zohar (2001) menyatakan bahwa ada beberapa ciri-ciri dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang dalam diri seseorang. Yakni kemampuan bersifat fleksibel, tingkat kesadaran diri tinggi, kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit. Kemudian kualitas hidup diilhami visi dan nilai-nilai, enggan menyebabkan kerugian yang tidak perlu, kecenderungan untuk melihat keterkaitan berbagai hal.

Selanjutnya punya kecenderungan bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar serta memiliki kemudahan untuk bekerja melawan hal yang umum. Kecerdasan spiritual merupakan atribut penting bagi manusia, sementara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dipandang sebagai bagian integral dari  kecerdasan spiritual. Bukti ilmiah dan neuro psikologis telah dikemukakan oleh Persingers (1987,1999) dan Ramchandran (1997) yang mengidentifikasi  God  quotient/Kecerdasan Tuhan  di dalam otak manusia dan berperan penting untuk memecahkan masalah yang dihadapi remaja.

KS mengacu pada ketrampilan, kemampuan dan perilaku  yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan memelihara hubungan dengan sumber utama dari semua makhluk serta pencarian makna kehidupan.
Banyak pakar ahli menyatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, tetapi lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Artinya, perkembangan dalam usaha menguak rahasia kecerdasan manusia berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan menjadi trend yang terus bergulir.  Robert A Emmons, Profesor Psikologi dari University of California, menulis sejumlah buku tentang spiritualitas dan rasa syukur. Ia menyebut kecerdasan spiritual sebagai kemampuan dan kapasitas individu untuk menyelesaikan masalahnya dan mencapai tujuannya (Emmons, RA, 2000; Spirituality and Intelligence).  Menurut Weeratungha dan Singh (2019), dari definisi Emmons ini dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual di antara karyawan dalam organisasi dapat mengarah pada tingkat kinerja, efisiensi, dan produktivitas kerja yang lebih tinggi.  Ursula King (2008) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kumpulan kemampuan mental yang didasarkan pada fitur kehidupan yang substansial dan mulia.

Kecerdasan spiritual berkonsentrasi pada kemampuan untuk menarik tema spiritual kedalam sejumlah fungsi kehidupan yang dapat membuatnya menjadi berarti demi suatu hal yang lebih besar di masa depan. Kecerdasan spiritual seseorang memilki peran penting dalam kemampuannya untuk melakukan adaptasi para berbagai situasi dan masalah. Tingkat kecerdasan spiritual yang lebih besar pada individu juga secara positif terkait dengan peningkatan kinerja (Utomo, 2014) dan (Hanafi R, 2010). Bahwa pengaruh positif kecerdasan spiritual terhadap kepuasan kerja selanjutnya mengarah ke peningkatan kinerja sebagai hasil dari pemaknaan yang lebih tinggi (Ali Shah T, 2012). Dalam menghadapi berbagai bentuk perubahan sekarang ini yang identic dengan era persaingan kompetitif sebaiknya kita wajib menggunakan kecerdasan spritua dalam kehidupan kita. Era-era dengan super high tecmolgy dengan segala kecanggihannya harus kita cermati dengan secara hati-hati apakah produk tersebut bisa lebih meningkatkan kecerdasan spiritual kita. Terhadap peserta didik juga berlaku demikian semakin kuat kecerdasan spiritual anak didik diprediksikan mereka akan mampu menjadi generasi-generasi penerus bangsa yang andal.

Solusi terbaik dalam era millennium sekarang ini adalah dengan memperkuat kecerdasan spiritual menjadi lebihb baik dan lebih baik lagi.

(Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Rujukan:

1. Ach Saifullah dan Nine Adien Maulana, 2005, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, Yogyakarta: Katahati
2. https://www.google.co.id/amp/s/masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/amp
3. http://www.kajianpustaka.com/2014/01/kecerdasan-spiritual.html
4. Mangal, S.K. 2012. Advanced  Educational Psychology. Kindle  Edition, 536 pages, Published August 15th 2004 by PHI.
5. Salovey, P., dan Mayer, J.D.  1990.  Emotional intelligence,  imagination. Cognition and  Personality, 3(3), 185–211
6. Wigglesworth, C. 2012.  The 21 Skills of Spiritual Intelligence, New York: Select Books, p.7

Facebook Comments